artikel | catatan | sekadar komentar | tentang media

Metode Riset Aksi Etnografis: Catatan Lapangan

“Beberapa pengunjung halaman ini, meminta saya untuk menampilkan beberapa metode yang digunakan untuk menjalankan Riset Aksi Etnografis. Kali ini, Catatan Lapangan (Field Notes) muncul lebih dulu.”

Catatan lapangan adalah tulang punggung riset aksi etnografis (ethnographic action research). Sejak hari pertama riset, Anda harus selalu membawa buku catatan untuk mencatat peristiwa yang berlangsung, atau segera sesudahnya. Anda  harus terbiasa sejak  awal, dengan duduk setiap sore bersama buku catatan dan menuliskan semua observasi lebih lengkap (biasanya paling sedikit tiga atau empat lembar per hari) baik di buku catatan atau – sebaiknya – di komputer. Catatan lapangan adalah catatan lengkap yang telah disempurnakan yang Anda buat di setiap ujung hari.

Catatan lapangan harus ditulis setiap hari. Catatan-catatan itu adalah rekaman paling penting dari semua yang Anda amati, bicarakan, dan pikirkan tentang proyek dan komunitas. Seiring waktu berlalu, catatan lapangan akan merupakan arsip yang kaya dan tak ternilai. Menulis catatan lapangan bertujuan untuk mencatat segala sesuatu dengan rinci. Seperti yang dikatakan sebelumnya, catatan lapangan bukan laporan atau rangkuman, atau sekadar seleksi dari hal-hal yang menarik. Catatan lapangan adalah bahan mentah lengkap riset Anda – tuliskan semuanya! Atau Anda akan lupa pada begitu banyak hal atau hanya ingat sebagian hal-hal tertentu saja.

Contoh catatan lapangan

Catatan lapangan peneliti proyek Seelampur
Tanggal 20/5/03

Saat kembali dari rumah Nxxx, saya bertemu Axxx dan gadis-gadis lain dalam perjalanan menuju Sentra. Axxx mengajak saya ke rumahnya. Di rumahnya, saya bertemu dengan seorang perempuan (Mxxx Bxxx) yang sangat menarik. Sangat ramah, energik dan ceria. Sebelumnya, ia mengajar Al-Qur’an kepada anak-anak. Selama ia mengajar, ia membina hubungan baik dengan banyak keluarga. Suaminya yang pemabuk memaksanya menarik  bayaran. Ia  mengaku  berasal  dari  keluarga baik-baik. Orangtuanya membantu suaminya membuka toko xxx. Ia dikaruniai empat anak perempuan. Kesulitan keuangan yang dialaminya, membuat ibunya terpaksa memberikan satu anaknya pada saudara perempuannya. (ia menceritakan siksaan yang diterimanya dari sang suami karena mengirim anaknya ke rumah bibinya). Dan anaknya yang lain diambil oleh ibu mertuanya. Hanya dua anak laki-laki dan dua anak perempuan yang tinggal bersamanya. Anak laki-lakinya menjalankan bisnis toko ayahnya.

Selama sepuluh tahun lebih Mxxx Bxxx menjalankan biro jodoh di rumahnya. Sejauh ini ia telah membantu menjodohkan 100 pasangan di Seelampur dan sekitarnya. Sebelumnya, ia tidak memungut bayaran sama sekali, karena menganggapnya sebagai tanggung jawab sosial. Kematian suaminya disusul dengan kewajibannya dalam menikahkan anak perempuanya,telah membuatnya terpaksa memungut biaya. Ia menceritakan pada saya betapa pekerjaannya itu menyita banyak waktu, dari pagi sampai sore. Biayanya tergantung dari orangnya. Orang yang kaya membayar sampai Rs 1000-3000 untuk mendapat jodoh. Ketika ditanya, ia mengaku bahwa sejauh ini tidak ada perkawinan yang dijodohkannya, gagal. Dalam hal perjodohan, ia menceritakan hal-hal berikut ini:

Para gadis saat ini sudah berpendidikan. Orangtua yang mempunyai anak perempuan terdidik, berharap anaknya menikah dengan laki-laki yang terdidik juga. Ini sulit, karena di daerah ini, juga di daerah lain, di mana saja, laki-lakinya kurang terdidik. Karenanya, orang yang kaya menawarkan banyak uang demi jodoh yang sempurna untuk anak perempuanya akibat makin mahalnya mas kawin. Lamaran yang bagus bagi seorang gadis datang dari pihak laki-laki di awal usia 16 sampai 22 tahun. Sangat sulit menjodohkan gadis yang berusia lebih dari 22 tahun, tapi mudah untuk gadis yang berusia 16 tahun.
Seperti pada pernikahan Hindu, mas kawin juga telah masuk ke dalam masyarakat kami. Selain memberikan perabotan rumah tangga dan pakaian, yang memang sangat penting, tuntutan terang-terangan akan sepeda motor, skuter, dan uang tunai juga disampaikan. Walaupun sang gadis berpendidikan, tuntutan seperti itu masih ada. Banyak gadis cantik yang baik dan berpendidikan tidak mendapatkan jodoh yang baik hanya karena orangtuanya tak sanggup memenuhi tuntutan pihak laki-laki.
Uang memegang peran penting dalam pernikahan.

Ia menceritakan pada saya betapa Mehhair (sejumlah uang yang ditentukan oleh keluarga pengantin laki-laki yang harus dibayarkan kembali pada pengantin perempuan kalau mereka bercerai) besarnya makin lama makin meningkat (Rs. 50.000 adalah jumlah yang sangat umum). Ia mengaku bahwa ia mengenal banyak keluarga yang berhutang pada keluarga lain atau rentenir. Tak ada batas pengeluaran untuk pernikahan, bahkan terus meningkat. Ia tidak ingat berapa pengantin pria yang menolak pemberian dari pihak pengantin perempuan.

(Saat perempuan itu pergi) ibu Axxx menceritakan bahwa ia mengenal perempuan itu selama 15 tahun ini. Dan merasa bahwa perempuan itu melebih-lebihkan. Tidak lebih dari 30 perkawinan saja yang telah ia hasilkan. Ia berkata bahwa perempuan itu suka bercerita kapan saja di mana saja. Tak ada rahasia yang bisa dijaganya. Anda harus menyenangkannya karena membuatnya kesal sama artinya dengan mengundang reputasi buruk keluarga Anda, termasuk masalah anak perempuan Anda yang belum menikah. Itu bisa menghambat datangnya lamaran yang bagus.

Ia berkata bahwa Mxxx Bxxx telah membawa banyak lamaran untuk Axxx. Tak satu pun dari lamaran yang ia bawa, cocok dengan kepribadian Axxx. Kadang keluarga pihak laki-lakinya yang sangat ortodoks, atau anak laki-lakinya yang tidak cukup berpendidikan, atau tuntutannya yang terlalu tinggi. Dua lamaran yang dibawanya bagus, tapi permintaannya tinggi, dan tidak pas dengan kami. Walau kami menolak dengan sopan, tetap saja kami mendapat cercaan. Ia berkata bahwa ia telah putus asa dalam masalah pernikahan Axxx. Allah pasti sudah menyiapkan teman hidup untuknya, di suatu tempat – ini hanya masalah waktu yang tepat saja.

Saya bertanya pada ibu Axxx, apa yang telah dilakukannya terhadap gaji Axxx (berkenaan dengan keinginan Axxx mengadakan pesta untuk saudara laki-laki dan perempuannya)? Ia berkata bahwa ia telah meyakinkan Axxx bahwa sebaiknya ia tidak menghamburkan uangnya, karena mereka bukan orang kaya. Ia harus menggunakan uangnya untuk mempersiapkan mas kawinnya, untuk meringankan beban mereka. Karenanya ia membeli selimut untuk dibordir, jam tangan dan beberapa perbot rumah tangga. Ia menunjukkan pada saya, semuanya. Ia juga mengungkapkan keinginanya agar adik perempuan Axxx mendapat pekerjaan. Ia menjadi begitu emosional saat berbicara dengan saya. Ia menginginkan anak laki-laki sederhana dan berpendidikan untuk Axxx. Ibu Axxx menginginkan Axxx bicara pada saya tentang pekerjaan adik perempuan Axxx. Tapi Axxx merasa malu mengatakannya.

Saya mendengar bahwa mas kawin hanya ada dalam Hindu. Tapi sepertinya, juga berlaku di komunitas muslim. Saya harus lebih banyak melibatkan perempuan dalam riset soal mas kawin. Saya ingin mengetahui seberapa keras masalahnya. Walau ibu Axxx dan Mxxx Bxxx telah menegaskan bahwa masalah mas kawin itu ada.

Setelah kembali dari lapangan dan menuju ke sentra, saya mengusulkan diskusi informal dengan memusatkan perhatian pada masalah mas kawin. Saya bertanya apakah ada yang mengetahui adanya masalah mas kawin di lingkungan mereka atau dalam keluarga, atau mas kawin itu tidak hanya sekadar persoalan.

Saya terkejut setelah mengetahui bahwa dari sebelas gadis muda yang hadir, semuanya mengetahui adanya masalah mas kawin. Dan mereka bercerita bahwa banyak tuntutan pemberian rumah diajukan setelah pernikahaan, dan sang istri tak dapat kembali ke rumah mertuanya hanya karena orangtuanya tidak punya cukup uang untuk memenuhi tuntutan yang diajukan. Dan lagi, bila saat itu tuntutan dipenuhi, bagaimana bisa yakin bahwa tidak akan ada tuntutan lain lagi yang diajukan di masa mendatang.

Wawancara kami dengan para perempuan mengungkap bahwa keprihatinan utama para ibu adalah jumlah anak perempuan. Ini bukan hanya kepedulian terhadap keamanan/keselamatan anak perempuannya, tapi banyaknya usaha dan uang yang diperlukan untuk menikahkan anak perempuannya. Hal ini menimbulkan keresahan bagi para ibu yang mengakibatkan kesehatan buruk. Selama kunjungan lapangan dan interaksi dengan dokter lokal, kami menemukan bahwa rata-rata ada satu pasien TBC dalam setiap rumah tangga. Banyak sekali perempuan menderita diabetes, tekanan darah tinggi, dll. 80% perempuan menderita anemia. Kecemasan dianggap sebagai alasan paling utama bagi kesehatan buruk perempuan.

Catatan lapangan tersebut menggambarkan apa yang terjadi pada peneliti di hari itu, siapa yang dijumpai dan diajaknya bicara, di mana, apa yang mereka katakan, dan juga termasuk interpretasi dan perasaan terhadap kejadian-kejadian tersebut – ‘Saya terkejut setelah mengetahui…’ Anda dapat melihat bahwa dengan menyimpan baik catatan lapangan, peneliti memperoleh gagasan tentang data yang dikumpulkan. Ia membuat kaitan antara hal-hal yang ia temukan pada hari itu dan temuan-temuan dari wawancara dengan para perempuan dan dokter lokal. Ia membuat analisis data begitu ia menulis catatan lapangan dan mulai merumuskan tema-tema untuk riset lebih jauh.

Catatan lapangan bisa berbentuk lain, seperti diagram atau sketsa, yang mungkin dapat memetakan hubungan atau ruang-ruang fisik. Anda bisa menempelkan pada catatan atau mengumpulkan benda-benda yang dapat dianggap memperkaya catatan lapangan. Catatan lapangan seharusnya dibuat selengkap mungkin. Kejadian dan hal-hal yang diungkap orang sambil lalu bisa berubah menjadi hal penting, walaupun saat itu, tidak terlihat sebagai sesuatu yang serius.

Dengan cara ini, Anda dapat mencatat sebanyak mungkin apa yang sudah Anda lihat dan dengar, dan mencatat tanggapan dan gagasan Anda sendiri saat semua terjadi. Cantumkan komentar tentang peran Anda dalam situasi yang sedang Anda amati (dan bagaimana keberadaan Anda mungkin telah mempengaruhinya) dan komentar tentang bagaimana Anda belajar tentang situasinya (termasuk kekeliruan dan kesalahpahaman yang menyertainya).

8 responses

  1. sepengetahuan saya sulit sekali cari buku metode riset aksi, apakah anda telah membuat buku atau hasil-hasil lapangan anda telah dibukukan? Jika sudah bagaimana saya memperolehnya
    sekian, trims ya

    Slamet

    December 1, 2006 at 7:15 AM

  2. ya, saya pun belum tahu apakah sudah ada buku metode riset aksi dalam bahasa Indonesia (saya belum penah benar-benar mencarinya).
    artikel yang Anda kunjungi ini adalah sebagian dari buku yang diterbitkan UNESCO yang saya terjemahkan, tentang kombinasi riset aksi dan etnografis, yang sudah dilakukan.
    bila Anda teratrik, saya bisa mengirimkan versi PDF-nya.

    December 6, 2006 at 2:30 AM

  3. Muhammad Taufan

    Saya termasuk yang suka mengamati hasil riset media di indonesia, utamanya tentang pembelanjaan iklan. Hanya saja hingga saat ini sangat sulit diperoleh data tentang hal itu pada media luarruang.outdoor advertising. Apakah metode riset aksi bisa diaplikasikan pada riset media outdoor tersebut? Tx

    December 8, 2006 at 2:18 AM

  4. riza darma putra

    kalao boleh ak juga dikirmkan PDF dari action reseach ethnogafy.Thanks

    April 1, 2007 at 4:26 AM

  5. Mb nita, kami tertarik sekali dengan artikel ini. Bolehkah kami copy dan masukkan ke web kami?

    Trims.

    October 4, 2007 at 3:20 AM

  6. siwibi

    Mbak, apakah metode tersebut bisa diterapkan juga untuk riset bisnis, terutama di marketing research. Kemudian berapa lama kira-kira waktu yang diperlukan untuk melakukan riset tersebut dan berapa banyak informan(responden) yang akan kita amati/wawancarai.

    Satu lagi mbak. bisa dikirim artikel yang terkait ke email saya siwibi@yahoo.com

    Makasih

    January 7, 2009 at 6:44 AM

  7. tebu

    sangat menarik , saya sedang belajar ttg riset etnografi, klo boleh saya di kirim pdf nya
    di mr.tebu@rocketmail.com… trimaksi

    September 9, 2009 at 11:10 PM

  8. Makasih banyak artikelnya sangat membantu skripsi sy. Cuma kok ga ada referensi/rujukannya ya.
    Mampir ya di quantumfiqih.blogspot.com atau sby-corporation.blogspot.com atau brillyelrasheed.blogspot.com

    June 6, 2014 at 5:36 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s